Hukum Aqiqah Anak yang Masih Kecil ataupun Dewasa
- 10:50 AM
- by
- alka jogja
Hukum Aqiqah Anak yang Masih Kecil ataupun Dewasa
Anak adalah titipan dari Yang Maha Kuasa untuk senantiasa dijaga
dengan sebaik mungkin. Ketika sang anak telah lahir di dunia ini, maka syariat
dalam Islam menganjurkan untuk melakukan aqiqah. Hukum aqiqah anak
sendiri hukumnya adalah sunnah mu’akad.
Adapun hukum aqiqah anak bagi orang tua yang dikatakan
berasal dari kalangan yang mampu, maka sangat dianjurkan atau bahkan wajib
dalam melaksanakan aqiqah. Aqiqah mengajarkan seorang muslim untuk mau
bersyukur atas karunia yang diberikan Allah SWT.
Lalu seperti apakah hukum aqiqah itu sendiri?
Hukum Melaksanakan Aqiqah
Hukum
aqiqah dalam Islam adalah sunnah mu’akad yang dilakukan sekali dalam seumur
hidup. Sebagaimana yang telah ditulis dalam hadist Rasulullah SAW yang
menjelaskan tentang aqiqah untuk anak yang baru lahir :
كُلُّ
غُلاَمٍ
رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّيكُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تَذْ بَحُ عَنْهُ يَوْمَسَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى
“Setiap bayi yang lahir tergadai dengan aqiqahnya,
disembelihkanlah kambing untuknya pada hari ke tujuh ia lahir, dicukur dan
diberilah ia nama”
Berdasarkan
hadits di atas, dalam melaksanakan aqiqah yang dianjurkan oleh syariat Islam
adalah pada hari ketujuh ketika sang anak lahir. Hal ini diniatkan agar ibadah
aqiqah sorang muslim bisa menjadi lebih sempurna apabila sesuai dengan waktu
yang disyariatkan.
Namun
jika pada hari ketujuh dari kelahiran sang anak tersebut luput atau terlewat
maka sebagian ulama membolehkan untuk melaksanakan aqiqah pada hari keempat
belas anak lahir.
Tapi
jika di hari ke empat belas orang tua tidak bisa mengaqiqahkannya, maka aqiqah
bisa dilaksanakan pada hari ke dua puluh satu. Lalu bagaimana jika orang tua
tetap tidak mampu melaksanakan aqiqah pada hari kedua puluh satu dan anak sudah
beranjak dewasa?
Hukum
Aqiqah Anak yang Sudah Dewasa
Hukum aqiqah anak yang sudah beranjak dewasa berdasarkan ijma’
ulama’ adalah :
Berdasarkan kitab Al Muntaqa min Fatawa Al Fawzan, (5/84 Asy
Syameal). Syeikh Al Fauzan Hafizhahullah berkata:
وإذا لم يفعلها
الوالد فقد ترك سنة، وإذا لم يعق عنه والده وعق عن نفسه فلا بأس بذلك فيما أرى، والله
أعلم .
“Apabila orangtua melaksanakan aqiqah, maka sungguh ia telah
meninggalkan sunnahnya. Dan apabila orangtua belum mengaqiqahi anaknya kemudian
sang anak mengaqiqahi dirinya sendiri, maka hal itu tidaklah mengapa,
sepenglihatan saya, wallahu a’lam.”
Masih berdasarkan kitab Al Muntaqa min Fatawa Al Fawzan, (4/84 Asy
Syamela). Syeikh Al Fawzan Hafizhahullah juga berkata:
الأفضل يوم سابعه،
هذا هو الأفضل المنصوص عليه، فإن تأخرت عن ذلك فلا بأس بذلك ولا حد لآخر وقتها إلا
أن بعض أهل العلم يقول : إذا كبر المولود يفوت وقتها، فلا يرى العقيقة عن الكبير، والجمهور
على أنه لا مانع من ذلك حتى ولو كبر
“Waktu pelaksanaan yang utama untuk aqiqah adalah dilakukan pada
hari ke tujuh kelahirannya. Maka jika
terlambat dari hari ketujuh, itu tidaklah mengapa, dan tidak ada batasan untuk
akhir waktu aqiqah kecuali sebagian para ulama berkata:
Jika anak yang lahir sudah baligh maka waktu aqiqahnya sudah
lewat, tidak dianjurkan bagi orang tua untuk melakukan aqiqah atas seorang yang
sudah besar. Sementara mayoritas ulama
berpendapat bahwasannya tidaklah ada larangan untuk itu meskipun sang anak sudah
besar.”
Berdasarkan dari kedua dalil yang sudah dijelaskan, maka hukum
aqiqah anak yang sudah beranjak dewasa tidak mengapa. Seperti itulah ulasan
mengenai hukum aqiqah bagi anak yang masih kecil maupun anak yang sudah baligh.
Semoga bermanfaat.
Bagi anda yang berencana untuk menunaikan ibadah aqiqah dapat mempercayakannya kepada kami, Aqiqah Al Kautsar. Aqiqah Profesional dengan Paket Kambing Aqiqah Syar’i, Sehat, Murah, dan Berkualitas
Keterangan lebih jelas untuk harga terbaru klik di sini.

0 comments:
Post a Comment